Bersyukur,Alhamdulillah. Setidaknya itulah kata pertama yg patut kita ucapkan saat Sang Maha Khaliq memberikan amanah kepada kita yang berwujud anak. Di luar sana masih banyak saudara kita yang menantikan kehadiran buah hati dalam rumah tangganya. Pertanyaannya adalah, bagaimana wujud nyata syukur kita atas karunia tersebut?
Sebagai seorang pendidik khusunya disekolah Islam yaitu SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya,kami dituntut untuk selalu lebih dekat dengan anak didik,para santri dan santriwati karena itu merupakan amanah,generasi Islam kedepan yang harus dijaga sebaik- baiknya.
Dan tentunya kami selalu bersyukur,rasa syukur yang begitu besar ketika diberikan sebuah amanah menjadi orang tua, sekaligus menjadi seorang guru khusunya di SMP Muhammadiyah 15 Boarding school Surabaya salah satu cara syukur kami adalah menjaga amanah tersebut dengan cara mendidiknya dengan baik.
Mendengar kata "mendidik" apa yg terlintas dlm benak kita? Apakah semata-mata tugas seorang ibu di rumah? Atau hanya tugas bpk ibu guru di sekolah?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendidik berarti memelihara dan memberi latihan ( ajaran, tuntunan, pimpinan) soal akhlak dan kecerdasan.
Menilik dari arti mendidik dari KBBI, terbayang tugas berat yg akan kita emban. Belakangan semakin marak seminar, webinar, WA grup dan beberapa kajian ilmu mengenai dunia parenting. Sampai-sampai muncul istilah _Mom shaming_ yang dapat diartikan sebagai tindakan mempersalahkan pola asuh orang/ibu lain, yg membuat ibu tersebut merasa bersalah dengan pola asuhnya yang tidak benar.
Menjadi orang tua, memang tidak ada sekolah khusus. Tidak ada ilmu yg dipatenkan dalam buku-buku. Tidak ada jurusan di universitas manapun yg memberikan kurikulum untuk menjadi orang tua.
Sejatinya, setiap manusia memiliki fitrah sebagai orang tua. Ini merupakan paket terindah dari Alloh yg sudah di setting dlm jiwa kita. Mendidik sosok bernama manusia hendaknya sudah dipersiapkan sejak awal. Karena memang tidak dapat secara instant. Cukup Mie dan kopi saja yang bisa instan. Tapi mendidik jangan instant.
Figur orang tua, baik ayah maupun ibu merupakan sosok yang sama-sama memiliki peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Proses mendidik yang dimulai sejak dini dapat membentuk akhlak yg baik pada anak-anak.
Dalam agama islam, akhlak yang baik merupakan salah satu tujuan penting dalam mendidik anak. Mendidik anak sejak dini merupakan investasi berharga demi masa depan si anak.
Dalam Al Quran juga dijabarkan bagaimana Luqman dalam mendidik anak-anaknya. Nabi Ibrahim yang kita kenal sebagai bapak Para Nabi, juga telah mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yg mensyukuri nikmat dari Alloh berupa anak dengan cara mendidiknya berakhlaqul Kharimah.
Cara mendidik secara islam yang seyogyanya kita lakukan antara lain...
1. Memberikan Nama yang baik. Nama adalah identitas yang melekat pada diri seseorang. Memberi nama yang baik pada anak pada dasarnya adalah perwujudan doa yang dipanjatkan orang tua. Nama harus memiliki arti positif dan baik diharapkan membawa keberkahan bagi anak tersebut.
2. Mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran. Membiasakan anak mendengarkan lantunan Quran bahkan sejak anak dalam kandungan merupakan aktivitas yang dianjurkan. Dengan pembiasaan ini, mengajarkan kepada anak sejak dini bahwa Al Quran merupakan pedoman hidup bagi seorang muslim. Al Quran jg dapat mendatangkan ketenangan hati dan pikiran bagi pembaca maupun yg mendengarkan.
3. Mengajarkan Beribadah.
"Tidak Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu" Jelas sekali Qalam Alloh...bahwasannya manusia ada di bumi ini tujuannya hanya untuk beripadah kepada Penciptanya yaitu Alloh SWT. Ajarkan sejak dini bahwa apapun kegiatan yg dilakukan haruslah bernilai ibadah.
4. Memberikan Contoh/Teladan yang baik.
Anak adalah peniru ulung. Seribu nasihat, sejuta perintah akan kalah dengan satu teladan. Maka jika ingin anak yg sholih sholihah...sebagai orang tua kita harus sholih dan sholihah terlebih dahulu.
5. Mengajarkan anak tetang tanggung jawab.
Tanamkan pada anak sejak dini bahwa segala sesuatu itu memiliki konsekuensi. Baik itu perkataan maupun perbuatan. Semua harus dapat dipertanggung jawabkan.
Nahhhh...demikian tadi beberapa cara untuk mendidik anak. Mendidik bukan menjadi kewajiban satu orang saja. Mendidik bukan hanya tanggung jawab ibu saja atau ayah saja. Bukan pula hanya tanggung jawab guru saja, melainkan tanggung jawab semua pribadi apapun peran kita. Proses mendidik begitu panjang. Tak kan mungkin hanya dengan sim salabim dan melalui kerjasama yang baik anatar sekolah dan orang tua diharapkan mampu membersamai merekam untuk mencapai tujuan menjadi anak-anak sukses dunia akhirat yang berakhlakul Karimah Semangat terus sahabat Spemlibels (SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya.karena mendidik tidak bisa mendadak kita harus saling support.(Astuti Sagitasari,S.Pd/Eko.)
Komentar