Ketika nabi Muhammad Saw, mendakwahkan islam di tengah-tengah masyarakat quraisy dianggap aneh, karena Nabi mendakwahkan tauhid mengenalkan Allah Swt sebagai sang Khaliq dan beribadah hanya kepadanya. Disisi lain nabi juga melakukan reformasi pada setiap dimensi kehidupan secara radikal sehingga memberikan dampak perubahan pada tatanan sosial, politik dan kebudayaan pada saat itu. Berdasarkan hal itu sangat mengasikan apabila kita mengetahui lebih dalam terkait apapun yang ada pada diri Rosulullah dilihat dari berbagai perspektif misalnya terkait beberapa dimensi di bawah ini yang disampaikan oleh Ustad Didik Hermawan selaku guru AIK MBS [Muhammadiyah Boarding School] SMP Muhammadiyah 15 yang sekaligus pimpinan cabang pemuda Muhammadiyah Pakal surabaya
Reformasi pada dimensi sosial yang dilakukan oleh nabi yaitu mengubah sistem feodalisme pada kesetaraan kelas egaliter tidak ada kaum bangsawan dan rakyat jelata semua sama dihadapan Allah Swt yang membedakan adalah sebuah ketaqwaan. Menghapuskan sistem patriarki di masyarakat quraisy yang selalu menempatkan perempuan pada orientasi seksual belaka, pemuas hawa nafsu dan di perjual belikan layaknya suatu barang. Dalam hal ini Asghar Ali Engineer berpendapat bahwa tujuan utama dari agama islam itu sendiri adalah sebagai persaudaraan yang bersifat universal (universal brotherhood), kesejahteraan (equality) dan keadilan sosial (social justice).
Reformasi pada dimensi politik kita bisa melihat potret kota yastrib yang semula sebuah kota kecil yang tidak diperhitungkan, ketika nabi hijrah ke yastrib, nabi mengubah yastrib yang semua kota kecil menjadi kota Madinah Al Munawaroh. Ketika nabi memimpin Madinah, nabi membuat sebuah piagam Madinah yang merupakan dasar konstitusi untuk mengatur kehidupan masyarakat Madinah saat itu. Melihat cakupannya yang begitu luas, maka Piagam Madinah dapat disebut sebagai upaya reformasi sosial politik terbesar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad selama karirnya sebagai Rasul.
Sedangkan reformasi pada dimensi kebudayaan Nabi membangun sebuah masjid sebagai pusat pendidikan dan peradaban. Mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshor dan memantapkan aqidah meletakan dasar dasar teologis untuk pembinaan umat, memperbaiki alkhlak dan mental masyarakat
Komentar